Saturday, 14 January 2012

A short story



Hujan berderak di telapak kesayanganku.
Aduh... air ini tumpah lagi, kenapa?
Aku suka hujan.
Dulu...


Dulu.
Sebelum kau pergi.
Dulu.
Saat kau masih memberikan senyum miring itu hanya padaku.
Dulu.
Saat kita masih menari bersama di bawah hujan.
Dulu.
Saat aku menunggumu di halte dan kau datang terseok-seok membawakanku payung.
Dulu.
Saat kau selalu muncul di daun pintu kamarku.
Dulu.
Saat kau selalu mengatakan "Hujan itu indah."
Dulu.
Saat kau memboncengmu di motormu, berbasah-basahan tanpa jas hujan.
Dulu.
Saat kau membawakanku secangkir susu panas cokelat.
Dulu.
Saat kau mengatakan "Walau aku sangat menyukai hujan, aku jauh lebih menyukaimu."
Dulu.
Saat kau mulai terlihat pucat.
Dulu.
Saat kau menggendongku di bawah hujan walaupun aku tahu, dekapanmu tak sekuat dulu.
Dulu.
Saat aku terburu-buru memanggil taksi karena kau terjatuh tiba-tiba saat kita berhujan-hujanan.
Dulu.
Saat aku marah, saat aku menangis, saat aku mengetahui kamu ternyata mengidap penyakit sialan itu.
Dulu.
Saat aku mengajakku ke pantai favoritmu. Saat kau mengatakan, "Hey, awan ini tak mampu lagi memberikanmu hujan, awanmu ini sudah jelek, sudah tak tahan lagi dengan sakitnya...."

Saat kau menghembuskan nafas perlahan, susah payah bangkit dari tidurmu, dan berbisik perlahan.
"Lupakan aku... tapi jangan lupakan hujan ini. Hujan kita. Dia temanmu sekarang. Dia penggantiku."

Perlahan kau menghembuskan nafas terakhirmu, tersenyum kecil, dan terlelap dalam tidur panjang.
Butiran dari mataku terjatuh.
Begiu juga butiran dari langit.












...................................




Sekarang.
Mataku hampa menatap jendela.
Mengingat kenangan 3 tahun silam itu.
Hujan masih bermain diluar.
Kemudian kudengar ketukan pintu.
Fatamorgana tergambar jelas, sangat jelas.
Kulihat kau berdiri disana, dengan senyum miring itu. Seakan menenangkanku.
Hey, kau tau sekarang?
Sepertinya aku kembali mencintai hujan.






***






Written on my classroom, December 2011, in the middle of the rain.
Thanks for the inspiration, dearest rain.

No comments:

Post a Comment